Beranda/Post/Berjuang Agar Petani jadi Sejahtera, Paruntu Launching Cap Tikus Legal  

Berjuang Agar Petani jadi Sejahtera, Paruntu Launching Cap Tikus Legal  

07 Januari 2019 - 366 Kali Dilihat
Berjuang Agar Petani jadi Sejahtera, Paruntu Launching Cap Tikus Legal   

 

 

AMURANG- Sepak terjang Bupati Minahasa Selatan DR. Christiany Eugenia Paruntu, SE untuk meningkatan pertumbuhan perekonomian warga dan masyarakat tetap menjadi prioritas utama bagi peraih Penghargaan Bintang Tanda Jasa dari Presiden Joko Widodo Tahun 2015 ini. Lihat saja, upaya Tetty sapaan akrab Bupati Minsel yang menjadikan minuman tradisonal Cap Tikus sebagai minuman yang berlabel resmi dan legal yang ditandai melalui Lauching Cap Tikus 1978 di Gedung Waleta Kantor Bupati Senin (07/1). “Ini semua saya perjuangkan agar petani cap tikus saya yang ada di Minsel khususnya, dan di Sulut umumnya  bisa lebih sejahtera dari saat ini,” tegasnya yang disambut yel-yel CEP.

Menurut anak Tertua dari mantan Rektor Unsrat Manado Alm. Prof. DR. Ir. Jopie Paruntu, MS ini, sebagai warga masyarakat Minahasa Selatan, kita  semua  tentu  patut  bersyukur  dan  berbangga

atas berbagai Anugerah Tuhan yang memberikan alam  yang  indah  dengan  kekayaan  Alam  didalamnya tercermin  dari  produk  “Cap Tikus.” Minuman ini hasil olahan  dari  aren yang  memiliki  kadar  alkohol  cukup  tinggi  yang juga  merupakan  warisan  budaya  turun-temurun serta  telah  menjadi  salah-satu  mata  pencaharian utama  masyarakat  Minsel, terutamanya  di  kecamatan  Motoling Raya,  Tareran  dan Amurang Raya, dengan luas  areal  tanaman  pohon  aren  di Kabupaten  Minahasa  Selatan  mencapai  2200 Ha dengan  populasi  mencapai  600 pohon  per Ha,  atau  jumlahnya  sekitar  lebih kurang  1.300.000 pohon. “Sumber daya alam inilah yang harus kita syukuri,” tegasnya.

Secara  umum  lanjut Kakak Tertua dari dr. Michaela E. Paruntu, MARS bahwa pengolahan  cap  tikus  masih dilakukan  secara  tradisional  oleh  masyarakat. Namun  mampu  menghasilkan  cap  tikus  kurang Lebih  600  ribu  liter  per-bulannya.  Sebagai Pemerintah  daerah,  tentu  kita  menyadari  bahwa Cap  tikus  ini  memiliki  potensi  yang  sangat  besar untuk dikembangkan. Namun tidak dapat dipungkiri kita  masih  menghadapi  kendala  dalam  hal pengolahan  cap  tikus  ini,  untuk  menjadi  komoditi Pasar, mulai dari pengolahannya, pengemasannya, perijinannya  dan  pemasarannya,  baik  di  tingkat Lokal, Nasional maupun Internasional. Oleh karena itu kekayaan  budaya  ini harus terus dilestarikan keberadaannya, ajak Paruntu.

Dalam sambutannya,  Tetty juga mengatakan jika kita melihat keberadaan cap Tikus,  maka  kita  bukan  saja  hanya  melihat  suatu bentuk  hasil  olahan  minuman. Namun  didalamnya kita  juga  akan  melihat  bagaimana  kebiasaan masyarakat  dengan  keberadaan  cap  tikus  ini,  bagaimana  kehidupan  ekonomi  masyarakat  dari hasil  cap  tikus,   bagaimana  keberhasilan masyarakat  dari cap  tikus  hingga  anak-anak  yang  berhasil  pendidikannya. Ini semua dari hasil cap tikus. “Dasar itulah,  saya  terus  berupaya mencari jalan keluar untuk me“legal”kan cap tikus ini,  mulai  dari  sisi  regulasi,  pembelajaran  cara pengelolaan  minuman  beralkohol  di  berbagai daerah  yang  sudah  berhasil,  serta  menjalin  kerjasama dengan berbagai stakeholder terkait. Dan di Tahun Baru 2019, akhirnya melalui Kerja  sama  dengan  PT.  Jobubu  Jarum  Minahasa, Produk  “cap  tikus  1978”  pada  hari  ini  dapat  kita Launching  bersama.  Cap  tikus  dengan  kadar Alkohol  45%  asli  Minahasa  Selatan  yang  legal dijadikan  sebagai  oleh-oleh  khas  Sulawesi  Utara serta  dapat  dikonsumsi  secara  umum  sesuai ketentuan peraturan perundangan yang berlaku,” jelas Tetty.

 

Bahkan lanjut Tetty, dirinya yakin   bahwa PT. Jobubu Jarum Minahasa  akan senantiasa  menjaga  dan  meningkatkan  kualitas produksinya,  dengan  melibatkan  para  petani  cap Tikus di Minahasa Selatan.

“Kalau perlu harga cap tikus yang akan dibeli ke petani dinaikin oleh perusahaan, agar kita pe petani di cap tikus bisa lebih sejahtera,” gurau Paruntu sambil mengingatkan bahwa  dalam  mengkonsumsi Cap  tikus  tidak  boleh  sembarangan,  harus  sesuai aturan  yang  berlaku  dan  “tidak  boleh berlebihan”.  Ingat  bahwa  “bagate” bukanlah  budaya  tou  Minahasa.  Karena  perlu Disadari,  dengan  kita  menjaga  perilaku  dalam mengkonsumsi cap tikus, artinya kita juga menjaga Produksi  cap  tikus  ini  tetap  bisa  berjalan  demi kesejahteraan masyarakat, pungkasnya. (alvi_kominfo)

 



Post Terkait


Hadiri Penyerahan Hasil Evaluasi SPBE, Tetty Optimis Minsel Akan Lebih Baik

Hadiri Penyerahan Hasil Evalua...

28 Maret 2019 0   Hadiri Penyerahan Hasil Evaluasi SPBE, Tetty Optimis Minsel...



CAP TIKUS 1978

CAP TIKUS 1978...

07 Januari 2019 0 ...


Kabupaten Minahasa Selatan

Our adress

Jl. Trans Sulawesi Kelurahan Pondang Kecamatan Amurang Timur

Our Fax and phone

Telp : (-) Fax : (-)

Tautan