minselkab.go.id- Kebakaran Pasar 1954 Amurang,  sekitar pukul 23.35 Wita pada Jumat (30/9). Membuat areal kompleks Benteng Potugis, Ruang Terbuka Publik (RTP), Bioskop Nona, GMIM Syalom Sentrum yang ada di Pertokoan Amurang dibanjiri oleh ribuan warga yang datang baik dengan kendaraan roda dua, empat dan berjalan kaki. Fasilitas jalan yang ada di areal tersebut, menjadi lautan manusia. Namun kebiasaan saat ini, berbeda dengan kebiasaan saat Pasar 1954 Amurang yang terbakar pada Jumat 11 April 2003 silam.

Peristiwa kebakaran yang terjadi pada 2003 silam itu, warga Amurang belum kenal dengan dunia Media Sosial (medsos). Jadi, saat peristiwa terjadi warga yang berdatang ke lokasi, tidak dengan tangan kosong tetapi tangan yang memegang ember berisikan air untuk membantu memadamkan api. Namun sekarang, dari pemantauan tim Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Minahasa Selatan, khususnya Bidang Informasi Komunikasi Publik Alvi J. Ulaan, ST, warga yang datang ke lokasi peristiwa hanya dengan ponsel. Mereka bukan sibuk  membantu namun hanya sibuk melaporkan peristiwa tersebut melalui medsos. Bahkan bukan hanya itu, kehadiran warga di lokasi, terpantau memperkecil ruang gerak petugas pemadam kebakaran. Armada Damkar saja sulit membubar warga yang memadati jalur transportasi di areal pertokoan walaupun mobil damkar seharusnya diberi ruang agar bisa bergerak dengan cepat untuk memadamkan api yang semakin membesar. (afi kominfo_minsel)