minselkab.go.id- Masih ingat dengan peristiwa kebakaran Pasar 1954 Amurang yang terletak di wilayah kepolisian kelurahan Uwuran Satu Kecamatan Tombasian pada pada 11 April 2003 silam ?. Kali ini,  peristiwa yang sama terulang kembali, sisa lokasi Pasar 1954 Amurang yang letaknya ada, di wilayah kepolisian Kelurahan Ranoiapo kecamatan Amurang (dahulu kecamatan Tombasian,red) kini jadi lautan api dan tinggal puing-puing, setelah api membungkus areal tersebut pada pukul 23.35 Wita pada Jumat (30/9).  

Dari pemantuan tim Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Minahasa Selatan, khususnya Bidang Informasi Komunikasi Publik Alvi J. Ulaan, ST dilokasi kejadian. Tak pernah terlintas di benak pikiran warga yang ada disekitar pertokoan, kalau api ini akan membumi hanguskan areal pasar itu. Pasalnya, kebakaran itu, awalnya api masih kecil. Namun tiupan angin darat kearah laut-lah yang membuat api semakin membesar dan dengan cepat merembet kearah kios-kios jualan pakaian milik para pedagang yang berjualan di sampai SD Negeri 1 Amurang itu.

Peristiwa ini, membuat warga yang ada di kompleks pertokoan Amurang langsung panik, mereka langsung bahu-membahu untuk memadamkan api yang makin membesar itu dengan air yang ada di areal Ruang Terbuka Publik (RTP) Amurang. Namun sayang seribu sayang kapasitas air dan tenaga tidak bisa memadamkan api yang semakin membesar dan merembet kearah SD Negeri 1 Amurang, kemudian bergerak meluas kearah kios Reparasi Senjata Angin Song Lie, Toko Orlane Amurang milik Alm. Cawo dan Tote yang kini disewa oleh Indomaret.

Lidah api yang bergerak sesuai arah angin ini, kemudian menjilat tidak beraturan dan membakar kios-kios bangunan yang terbuat dari beton dan papan,  milik para pedagang sembako, pakaian dan  rumah makan dalam waktu yang sangat singkat. Sekitar pukul 24.00 WITA, api kemudian dengan cepat bergerak kearah pemukiman warga yang ada di Pasar membelakangi pesisir pantai Amurang. Waktu terasa berjalan sangat singkat, warga yang panik terpantau kocar-kacir untuk mengamankan barang dagangan dan barang berharga mereka. Api-pun mulai menjalar hingga pemukiman warga yang ada di areal Lingkungan 15 kelurahan Ranoiapo atau tepatnya puluhan anggota jemaat Kolom 5 GMIM Baitel Ranoiapo, sekitar pukul 00.30 WITA (01/10) dini hari. Rumah warga-pun akhirnya diludes dan tinggal puing-puing.

Sil seorang pedagang mengaku bahwa awalnya dia Bersama beberapa warga melihat titik api itu ada sangat kecil. Namun selang beberapa menit tiba-tiba menjadi besar. “Api, awalnya masih kecil, Cuma angin yang bertiup kencang ke arah laut atau pantai Amurang, membuat api yang ada di titik komplek toko sembako milik Ci Hoa dan Ape Moniaga ini, menjilat kios-kios jualan pakaian yang ada dibelakangnya semakin membesar dan langsung membumi hanguskan areal sisa pasar 1954 itu dengan cepat,” ungkapnya. (afi kominfo_minsel)